Jumat, 02 Desember 2011

KESENJANGAN ( sajak kritik sosial )


KESENJANGAN : 




sekalipun setiap hari tercipta ribuan puisi, 
tak akan bisa menghapus air mata duka ibu pertiwi

kalian lihat ; 
beragam seminar serta lokakarya mengangkat isu 
tentang gejolak sosial politik, budaya dan keadilan sosial ,
tak ubahnya kongkow-kongkow di kedai kopi,
ngoceh sana-sini, komentar kanan kiri
ketawa ketiwi ,menguras banyak waktu, dana dan energi
solusi seringkali tinggal solusi , kurang tampak pada realisasi
acapkali tersimpan rapi dalam diktat atau lemari besi 
bahkan ribuan proyek untuk kepentingan sosial seringkali dikebiri
disantap oleh jaringan mafia berdasi dalam permainan kolusi


ketika aku melihat perselisihan antar kampung,
perseteruan antar suku , organisasi agama dan kelompok,
sesungguhnya telah lahir bibit premanisme 
yang meresahkan masyarakat
berbagai propaganda dan intrik pun diterapkan
ditunggangi oleh kepentingan elite-elite politik 
demi satu tujuan untuk melanggengkan ambisi kekuasaan,
hingga beragam bentuk kejahatan 
merajalela di kota-kota juga di desa-desa .

tidakkah kalian saksikan, ?
unjuk rasa yang mengarah ke unjuk kuasa terjadi 
di hampir setiap penjuru pelosok negeri ?
seketika mayatmayat bergelimpangan di jalan raya
di depan kantor-kantor polisi ,
di kantor pengadilan , bagai bangkai tak berharga
Bhinneka Tunggal Ika serta ajaran agama 
nyaris lenyap dari tatanan normanorma
Yang selama ini menjadi slogan yang disucikan

mengapa orang-orang zaman kini telah melupakan 
pemahaman dari butir-butir pancasila :

”kemanusiaan yang adil dan beradab” 
Juga butir 
”persatuan indonesia ”

Nilanilai agama dan butir-butir teks pancasila tak lagi sakti 
mencegah segala bentuk kekacauan moral dan etika .

Kalian saksikanlah !;
kesenjangan demi kesenjangan sosial akibat dampak 
dari laju derap pembangunan yang timpang
belum mencapai titik kemakmuran hasil pemerataan ekonomi 
serta pembangunan yang maksimal di segala bidang
hingga dapat dirasakan oleh rakyat di penjuru tanah air ;

kesenjangan-kesenjangan strata sosial yang begitu tajam
dampak dari ketimpangan pembangunan
telah menciptakan limbah pengangguran 
serta busuknya aroma kemiskinan di hampir seluruh pelosok negeri
tingkat urbanisasi bagi gelombang tsunami,
menerjang jantung kota ,saat ini tak bisa dibendung lagi,
semakin hari semakin meninggi


aku saksikan ;
wajah para korban bencana gempa dan badai 
yang kehilangan harta benda serta sanak saudara, 
masih terlihat murung, mengusung duka nestapa 
dalam dada luka yang menganga, airmata berlinang, 
luka itu masih berdarah-darah menjadi nanah tiada terkira

masih kusaksikan, ratap tangis orang-orang yang digusur oleh pembangunan gedung-gedung pencakar langit ...
melengking memecah langit.

Lihatlah !, wajah orang-orang pinggiran , kaum gelandangan 
serta para pengemis yang tumpah ruah di jalanan,
di terminal-terminal, di stasiun-stasiun kereta, 
di bawah kolong kolong jembatan, 
berserakan

jerit lirih kaum du’afa , mengais sampah-sampah pembangunan
ringkihan wajah orang-orang yang mengemis di lampu merah
mereka masih jauh dari sila :

” keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” ...

keadilan sosial hanya bagi segelintir orang saja
keadilan sosial hanya untuk kelompok tertentu saja ...
keadilan sosial hanya untuk hewan peliharaan si tuan polan,
siapa yang peduli dan beriba hati ?

sementara mereka kaum marjinal dan orang-orang terlantar
terhimpit oleh kemiskinan didera oleh kezaliman
selalu menjadi sapi perah dan kamuflase 
proyek para elite politik dan petinggi negeri ....

pancasila sebagai dasar visi dan misi negara kadangkala
hanya slogan kosong, yang menggaung
di hari-hari peringatan kenegaraan

siapa diantara kita yang berempati ? 

sekalipun setiap hari tercipta ribuan puisi, 
namun tak akan bisa menghapus duka
airmata derita anak-anak bangsa



@ senandung jiwa nyanyian pengembara @
Bintang Kejora , Pelalawan Riau , Maret 2011

Tidak ada komentar: